Ini tentang hidupku, tentangku yang berada di sudut malam. menikmati hari yang tak pasti− berlama-lama akhirnya semakin sesak.
Aku
Aku ingin kita kembali bersua kawan−
membahas opini, saling adu pendapat, bercanda ria, juga tatapan-tatapan yang
gila.
Aku ingin kita kembali bekerja seperti
biasa− menghabiskan waktu di ruang-ruang, saling lempar tugas, saling berebut
posisi, saling berlomba di pagi, saling makan sepiring juga saling bekerja sama
dalam menyelesaikan permasalahan.
Aku ingin kita kembali menikmati senja−
menyaksikan malam yang menelan sore, mendengar gemuruh ombak yang itu-itu saja,
melihat para kapten pesiar berteriak meneriaki pekerja, bergandeng tangan
hingga melempar percikan, swafoto hingga memori tak lagi muat, juga
menghabiskan secangkir Greentea Gratis
buatan teman yang membuka lapak di pinggiran pantai.
Huuuffft… benar-benar sesak berada di
sini, di rumah ini, di ruang ini, di lingkungan ini yang semuanya serba
terbatas
Aku
Aku ingin keluar menikmati udara segar−
sejak di sini, semua terasa tak ada yang segar, harus memakai ini dan itu,
harus begini dan begitu. Semuanya menekan gerak tubuh.
Aku ingin keluar menghabiskan malam di
ruang Bioskop dan atau musium− yang memamerkan karya-karya indah berbeda di
tiap harinya. Berada di sini, semua yang terpajang di dinding itu masih gambar
yang sama beberapa tahun lalu, tayangan-tayangan tv pun tidak lagi asik untuk
di tonton.
Aku ingin keluar menapaki gunung−
mendengarkan kicauan burung-burung, mendengarkan angin yang meniup pepohonan,
mendengarkan suara yang berpantul-pantul, juga menyaksikan api yang melelehkan
lilin.
Huuuftt…
Benar-benar sesak berada di sini.
Lagi-lagi, aku ingin berteriak
sekeras-sekerasnya, membangunkan para bedebah yang tertidur pulas di kamarnya,
tanpa memperdulikan warga yang hampir mati di buatnya.
Komentar
Posting Komentar