Hari yang membosankan itu telah tiba, dimana dia yang dulu menerbangkan kini telah layu dan kusam bersama jiwanya yang terikat jiwa yang lain. Kini aku yang terbang namun tak sendiri, Diriku bersama bayangan. Bayangan yang tak menampakkan muka walau sekecil biji sawi. Aku mendambamu dalam hari-hariku yang dipenuhi garapan tersusun dan rapi. Namun, engkau memilih jalan yang bebatuan tak berhuni.
Memanglah membosankan jika kupikir dengan indra yang tak pernah terungkap. namun, aku memahami banyak hal. bukan hanya dirimu. karena hidupku dipenuhi dengan kesibukan yang tak pernah engkau pekain. Diriku di rundup Kesibukan yang hanya tertuju untuk Jiwa yang terikat Jiwa yang lain. apakah engkau paham?
Engkau memang layak di damba dan di puji, namun engkau bukan Dewa bagiku. engkau hanya Ciptaan Tuhan yang terindah pernah mengkilapi Bola mataku ini. terlintas bagai Pelangi, Sekejap bagai Iklan, tercepat bagai Ferrari. Engkau pergi, pergi dan tak kembali. aku mengejar, mengejar dan membosankan.
Aku pernah bercerita padamu tentang dunia, namun ternyata dunia itu bukan milikmu. aku layaknya penghianat telah membongkar Rahasia dari Ruanganku sendiri. engkau tau segalanya tentang Hidupku. namun engkau tak menyadari satu hal yang terlintas dan tenang dalam Jiwamu waktu itu.
Aku selalu diambang pikiran yang gelap namun tak Hina, karena kutau berada disini adalah pilihanku. engkau hanya berjalan waktu itu dan tak tau arah jalan pulang. engkau tak meninggalkan bekas karena semua telah terbang bersama angin. Hanya ada titik yang tak terlihat kasat mata kupunyai dalam hati.
Perpisahan bukanlah Duka, dan Duka adalah terpisah dari Bahagia. Aku ingin tetap disini sebagai pengagum yang setia dari sudut-sudut kebencian agar diri ini tak menyimpan rasa dendam yang dalam untukmu.
Sesulit itu kubayangkan, namun semudah mengangkat kapas aku Terbang Bersama Bayangan.
Komentar
Posting Komentar