BUKAN DAUN TERAKHIR

Teruntuk Dia
aku tenggelam dengan rasa yang sama, 
di dalam samudera yang terinfeksi.
berjalan menuju arah yang sama,
dihantui bayang-bayang akan Rindu dikuatkan banyak hal akan kesyahduan 
bersama angin aku mulai menghembus harapan 
diterbangkan badai yang dahsyat melebihi ombak yang tinggi
sampai sedikit demi sedikit terkikis seperti pasir pantai yang diculik gelombang 
inilah aku yang mulai menyakiti diriku sendiri 
seandainya kutahu waktu ternyata bisa lebih cepat, aku sudah tidak di ruangan yang sama , tertutup.. 

waktu semakin lambat dan lambat 
belum ada tangan yang datang memberi sentuhan baru 
pahit... terasa, memang pahit saat semua yang berlalu meminta untuk dikenang 
namun biarlah. 
 semua rasa akan kujaga, terutama rindu yang setiap detak ia meronta 
suratmu tak pernah sampai 
suratku pun tak pernah engkau baca
dunia ini terombang-ambing pasti hancur suatu saat. 
di mana dirimu yang dulu selalu berjanji akan searah? 
apakah semua hanya hiasan semata?
kita kini berbeda lukisan, engkau memilih di kamar aku memilih di depan pintu. 
apakah seperti ini buah janjimu? 
engkau tertutup menghianatai kata "akulah hidupmu" 

 Pada daun yang berjatuhan kusapa selamat tinggal. 
tak sepantasnya kita sering memaki jendela. 
tertutup atau terbuka angin tetap menemukan celanya 
Rasaku tak selalu sama, meminta ragaku agar segera pergi 
maka kuambil rindu itu darimu, 
kau adalah daun sedang aku ranting 
tak akan pernah lagi untuk kau ditempel pada ranting yang sama, harus daun baru. 
Aku akan menjadi pohon yang ingin selalu berdaun. 
aku adalah ranting dan kau adalah daun, 
namun sekarang engkau adalah daun yang gugur di mataku. 
aku akan menunggu daun yang baru tentunya (Maaf)

Komentar