SEPOTONG NOVEL "CINTA DAN RINDU"


Pagi yang cerah menyambut datangnya awal bulan oktober yang meriah, tepat tanggal satu oktober di hari sabtu. Orang-orang desa sibuk dengan pekerjaan masing-masing, desa ini di namakan kota tua peninggalan pahlawan (Tanah Pahlawan). Tidak jauh dari perkotaan provinsi. tepat jam delapan pagi, awan petanda akan ada bahagia di desa kami datang begitu cepat. Orang-orang berbondong-bondong meninggalkan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, aku yang masih tidur pulas pada kasur pemberian nenek belum juga terbangunkan. Seketika, lonceng pada menara desa berbunyi, membuatku kaget dalam mimpi terbawa kedunia nyata.
Inilah awal kisahku, namaku Morgan, orang-orang selalu memanggilku nama gangan sambil tertawa terbahak-bahak. Aku menghiraukan mereka tentunya, tiap hari, aku melewati kanal perbatasan desaku dengan desa indah d sebelah kanal. Tiap hari pula, aku di palaki oleh orang-orang berbeda di jembatan perbatasan, tidak ada jalan lain selain berenang di bawah jembatan untuk menghidari palakan mereka. Tentu itu bukan masalah bagiku, karena aku adalah pegawai perusahaan ternama di kota provinsi, maka uang lima ribu adalah uang sedekahku untuk mereka. (Uppss,, ini adalah hoakx, berita bahwa aku adalah pegawai perusahaan ternama hanya untuk membuat bangga keluarga, uang itu aku pinjam dari teman di kota provinsi, namanya Delia). Di tambah di desa sebelah ini, aku mulai mengenal apa itu Cinta. Dia adalah anak kepala preman pasar, Pak Jagur adalah julukan ayah dari anak yang ku cinta di desa tersebut. Gadis itu bernama Maggie (gadis cantik, putih, mata agak sipit, bola mata ke coklatan dengan lesung pipi di dua pipinya)
“Hai Maggie!” sapaku saat di depan rumahnya
“Hoi,, Ngapain kamu?” jawab pak jagur dengan muka sangarnya menatapku dalam-dalam.
Maggie yang duduk di kursi hanya tersenyum-senyum melihatku kena marah oleh bapaknya.
Sambil berjalan ke depan. Tak sadar, kepalaku terbentur pada tiang listrik yang di tanam ayah beberapa tahun silam. (Oh iyya, ayah.. ayah adalah pekerja PLN di kota kami, tiap hari berangkat pagi pulang sore, tiap hari pula ayah mendapat panggilan pelanggang di mana-mana)
Dengan melihatku terbentur, orang-orang meneriaku sambil tertawa, tidak berbeda dengan Maggie.
“pagi yang sial” (kataku dalam hati). Sambil memukul tiang listrik itu. “ini adalah ke dua kalinya kepalaku terbentur” (masih dalam hati) tiba-tiba
“hati-hati kak” maggie menyapa sambil berjalan menuju kampusnya
“mimpi apa aku semalam?, baru kali ini maggie mengucapkan kata-kata untukku” (dalam hati) “iya dek, makasih loh.” Jawabku.
Sambil menghindari tawaan orang-orang, aku berlari mengampiri maggie, “kamu hendak kemana?” tanyaku
“kekampus bang”jawab maggie dengan cuek
“ohh, kampus kamu di mana? Mau saya antar?” tanyaku sambil menawarkan bantuan.
“gk perlu bang, aku bisa sendiri kok. Lagian, pengawal ayah juga mengawasi aku kok bang” jawab maggie.
“pengawal ?? jadi ,….??” Tanyaku
“iya bang, mau lihat? Tuuh… (sambil menunjuk pohon pisang).. itu juga.. (sambil menunjuk tempat belanja di seberang).. mereka memperhatikan kita bang.” Lanjut maggie.
“mati akuu” (jawab dalam hati). “
“hahahah,, gk bang, becanda. Di pisang itu gk ada orang, di sana juga Cuma ibu-ibu,” maggie melanjutkan
“oh iya bang, nama abang gangan kan? Pemuda dari desa sebelah?” Tanya maggie
“hmm. Kenalin, namaku morgan. Maggie bisa panggil morgan, dan nama gangan itu Cuma panggilan dari anak-anak jembatan di perbatasan.” Jawabku
Sambil senyum “hehe. Aku tau kok. Kan abang tiap hari lewat depan rumah maggie” jawab maggie.
“jadi, mau aku anterin gk ?” aku memotong
“gk perlu bang, aku bisa sendiri kok, lagian arah kita beda bang” jawab Maggie
“mmp, ok. Kalo gitu abang berangkat dulu yah” sambil menunjuk-nunjuk arah berbeda
“iya bang, terima kasih karena telah berteman” Sahut Maggie dengan senyuman termanisnya

Sesaat setelah pertemuan itu, aku berlari menuju stasiun kereta terdekat. Membeli tiket seharga enam ribu di loket. Sepuluh tahun yang lalu, tidak ada tanda-tanda akan ada stasiun berloket di desa ini, teringat tempat dan teman-teman sebaya waktu itu, kami berlari mengejar mobil-mobil yang akan berburu di hutan mencari santapan malam. Aku yang masih berumur tigabelas tahun duduk di bangku kelas satu SMP mulia yang sekarang berganti SMP Negeri 8 itu, bersama teman yang masih terlintas adalah tony (anak malang yang di tinggal ayahnya menikah ke dua kalinya di negeri seberang), yoes (anak pintar yang kini tidak lagi tinggal di desa, mengejar cita-cita yang mulia), ahmad (anak desa yang setamat SMA mengembara entah kemana) dan satu lagi gadis cantik yang kini tinggal di kota, Delia (anak pejabat provinsi yang sukses karena ayahnya mencalonkan diri sebagai Caleg enam tahun silam, sekaligus teman ATM yang rela meminjamkan uang untuk membayar palakan di perbatasan).
Setelah tiga langkah di kereta yang menuju kota, aku teringat Maggie, “ oh iyaa,, aku melupakan sesuatu, aku lupa mengambil nomor gadis itu. Belum lagi, dia lupa memberi tahu nama kampus tempat kuliahnya” sambil memukul jidat.
Sesampai di kota. Mengingat hari ini adalah tanggal baru di awal bulan oktober, tentu pekerja-pekerja berharap mendapat gaji dari pekerjaannya. Termasuk diriku. Mengantri di depan meja bos (Bos Cull) aku tepat berada di urutan belakang keterlambatan beberapa detik dari yang lain.
“morgan, kali ini kamu dapat persenan, mengingat kerjaanmu minggu lalu memuaskan” sahut boss cull sambil menunjuk table pencapaian target.
“terima kasih boss, tapi apakah dapat bonus lagi boss?” jawabku.
“ah, ada-ada aja kamu ini, persenan itu sudah masuk bonusmu, sana kerja” jawab boss cull spontan.
Sambil nyengir aku keluar ruangan boss, menuju ruangan kerja. “andai saja aku bisa menghasilkan dua kali lipat dari ini, mungkin aku bisa menyewa tempat, membeli kendaraan disini” dalam hatiku.
Oh iya, pekerjaan saya.
Saya bekerja di perusaan kopi swasta milik boss cull sebagai barista (peracik kopi) sekaligus kepala bagian dapur. Gaji PNS dua kali lipat dari gajiku. Jelasss!!! Bekerja dari jam Sembilan pagi sampai jam lima sore.
“pak morgan” panggilan dari kasir.
“iya ada apa?” jawabku
“bapak dapat panggilan dari pak boss” jawab kasir
“ok, terima kasih”. Jawabku, sambil berjalan menuju ruangan pak boss cull.
“selamat datang morgan. Oh iya, aku ingin mempekerjakan ponakan saya disini mor, tapi dia ingin mengambil kepala bagian dapur” sambut pak boss
“aduh,, ada tanda-tanda penurunan gaji nih” (jawabku dalam hati). “tapi…”
“tenang saja morgan, gajimu hanya ku potong sedikit” memotong jawabku
Ingin rasanya membuang kain yang menempel di dadaku sekaligus menulis surat resign. Tapi teringat ibu dan keluarga dirumah.
“dia akan datang siang ini, selepas dari kampus” jawab boss seketika.
“dan.. dia hanya bekerja paruh waktu, antara jam satu siang hingga jam enam sore” lanjutnya.
Sambil menggeleng-gelengkan kepala, aku keluar ruangan pak boss “baiklah pak” jawabku
Belum waktu kedatangan keponakan pak boss cull, tiba-tiba telephon genggam ku berbunyi, “aduh, jangan-jangan pak boss lagi nih, minta saya keluar segera” sahutku dalam hati
Kuangkat, dan itu nomor baru. “halo, heii kawaan.. it’s me” suara dari telephon
“halo, iya, ini siapa?” jawabku
“heii,, do you forget me?” jawabnya dari telephon
“maaf, jika anda butuh kepentingan, bilang secepatnya, atau telephon ini kumatikan” jawabku tegas
“santai, ini aku men, yoes….” Jawabnya
“oh my god, really??... where are you brother?” tanyaku seketika
“hahahaa,, saya di desa nih bro. kapan kamu balik ke desa?” jawab yoes
“hahahha.. ok, tunggu saya di sana sore ini, selepas pekerjaanku selesai”
“ok bro.. jangan lama-lama. Kau ingat janji mu waktu dulu,?” sahut yoes (janji itu ketika tujuh tahun yang lalu, sebelum Negara api menyerang. Kami berlima berjanji. Akan berkumpul lagi di desa ini tepatnya tahun ini dan bulan ini)
“hehe, santai man, aku akan tepat waktu kali ini” jawabku
“jangan lupa, ajak teman-teman yang lain bergabung, kita pesta malam ini” tambahku
“hahhaahhha.. ok ok man, I really miss u” jawabnya

Tepat pukul 12.00 WIB, datanglah wanita cantik, senyum dengan lebar tiga cm, dan alis setipis artis-artis TV. (Clara, keponakan pak boss yang akan mengambil alih kepala bagian dapur. Gadis yang kuliah di Universitas Ternama dengan Jurusan Perhotelan)
“maaf bu, mau pesan apa?” mencoba bertanya
“I’m sorry, saya ingin bertemu pak Syamsul” jawabnya
“hmm,, pak syamsul siapa yah bu?” sahutku lagi.
Seketika “Ohh.. keponakan tercantikku sudah datang, sini sini nak, masuk ruangan om” pak cull menjawab
“terima kasih om. But, siapa nama om di sini?” jawab wanita itu sambil menunjuk-nunjukku.
Sambil tersenyum pak boss cull menariknya masuk ruangan
“mati aku, kenapa pula aku gk pernah tahu nama lengkap pak boss cull ini?” dalam hati.
“morgan!, ikut saya ke ruangan!” ajak pak boss
“siap pak!” sahutku
“oh iya kenalin, ini adalah ponakan saya” lanjut pak boss
“hei, clara.” Jawab gadis itu sambil menjulurkan tangan nya padaku
“hei, saya morgan.” Jawabku sambil bersalaman dengannya.
“oh iya clara, ini morgan yang saya ceritain tadi pagi, dia kepala bagian dapur sekaligus peracik di café ini,” lanjut pak boss cull
“makasih pak memperkenalkan saya” sahutku sambil nyengir entah antara kecewa atau bahagia
Kami sempat berbincang sejenak di ruangan pak boss. Hingga jam istirahat, kami melanjutkan makan di dapur bersama dengan beberapa karyawan sekaligus memperkenalkan Clara kepada All Crew Café di sini.
Sejak pertemuan kami di ruangan pak boss, clara selalu melirik dan melempar senyum ke saya,
“aduh, jangan-jangan clara jatuh cinta lagi dengan saya” sahutku dalam hati.
Selepas jam istirahat, saya melanjutkan pekerjaan. Meracik kopi special untuk kepala bagian dapur (Clara)
“Hai, ini aku buatin kopi special buat kamu” menyulurkan segelas kopi
“terima kasih morgan, ini gk pake Sianida kan?” jawab clara sambil tersenyum manis menatapku
“hahaha, mana mungkin sih clar, mana mau saya membunuh. Apa muka saya seperti pembunuh?” sahutku sambil tertawa
“hehehe, gk… becanda kok” jawab clara spontan.
Kami bercanda-canda di situ, hingga jam pulang datang.
“Clara, aku pulang duluan yah” sapaku sebelum berangkat
“oh iya morgan, boleh minta kontak kamu?” Tanya clara
“oh, boleh. 0800-1001-2002” jawabku
“thanks” jawab clara sambil tersenyum.

Akupun kembali kerumah, Yoes sudah terlihat berkeringan di teras rumah saya.
“hello mr. yoes, apa kabar bro?” teriakku ketika berjarak lima meter dari rumah
“baik kawan, kamu tau saya bersama siapa?” Tanya yoes
“kau sudah menikah?” tanyaku ketika melihat pacar yoes berdiri di sampingnya
“hahahah,, belum kawan, rencana kami menikah bulan depan” jawab yoes



BERSAMBUNG ................

Komentar